Minggu, 01 Mei 2016

Islam dan Kebudayaan Jawa






ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA

PEMBIMBING: UST. mUHAMMAD HUDAYA. lc. M.ag

BAB 1
Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang kompleks, dia tidak cukup hanya mencari makanan, pakaian, dan perumahan, walaupun kebutuhan material ini penting. Manusia membutuhkan keyakinan atau sesuatu yang percayai.
Suku-suku bangsa Indonesia dan khususnya suku Jawa. Sebelum kedatangan Hinduisme telah hidup teratur dengan religi animisme dan dinamisme yang dijadikan akar spiritualitasnya, dan hukum adat yang mereka jadikan sebagai pranata kehidupan sosial mereka. Religi animime[1]-dinamisme[2] meruakan akar budaya yang dimiliki bangsa indonesia khususnya suku Jawa, sehingga berdiri kokoh walaupun mendapat pengaruh dan harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan yang telah berkembang.

BAB 2
Pembahasan
A.  Sejarah Singkat islam di Jawa
              Pada abad ke-15 dan ke-16, telah terjadi perkembangan-perkembangan penting di bidang spiritual, sosial, dan struktur politik bangsa-bangsa dan negara-negara di Asia Tenggara, seperti juga hal nya di India, Timur Tengah, dan eropa. Sejarah Eropa dan Timur Tengah pada masa tersebut boleh dianggap sudah diketahui umum. Semangat petualangan telah mendorong beberapa               bangsa Eropa Barat   berdagang ke seberang lautan melewati ujung selata Afrika ke India, dan dari sana terus ke Asia Tenggara, Cina, dan Jepang. Hal itu sekaligus berarti suatu perluasan hubungan antara Timur dan Barat, yang di kemudian hari menyebabkan terjadinya perubahan penting di bidang sosial dan politik di India dan Asia Tenggara. Orang Portugis merebut Goa dan Malaka pada tahun 1510 dan 1511, dan orang Belanda merebut jakarta pada tahun 1619. Arti perluasan hubungan perdagangan tersebut bagi bangsa-bangsa Eropa Barat tersebut tidak perlu di bicarakan disini.
              Demikian pula telah diketahui luasnya pengaruh perebutan-perebutan daerah yang dilakukan oleh raja-raja Islam di Timur Tengah, selama beberapa ratus tahun terus menerus sejak abad ke-7 terhadap perkembangan sosial dan politik Eropa. Pada abad ke-15 penakluk yang berkebagsaan Portugis di India dan Asia Tenggara berhadapan lagi dengan  pemeluk agama Islam, yaitu agama yang telah dikenal dalam sejarah Semenanjung Pirnea. Kalau pada zaman itu agama Islam berabad-abad menjadi agama keturunan raja yang penting di india, maka di kepulauan Indonesia- tegasnya di pulau jawa- agama dan tata kemasyarakatan yang pra-Islam masih tetap bertahan sampai pada permulaan abad ke-16, Bali tidak pernah berada dibawah kekuasaan Islam. Pada masa orang Portugis mulai menetap dimalaka  raja-raja yang beragama Syiwa-Budha, yaitu Pajajaran dan Majapahit, masih memerintah bagian terbesar jawa. Kepulauan Nusantara dapat dianggap sebagai tempat pertemuan antara alam perdagangan Eropa Barat yang terus mendesak dan alam kebudayaan Islam yang berkembang dari India dan Asia Tenggara.
B. Permulaan Penyebaran Agama Islam di Jawa     
              Agama Islam di Asia Tenggara dan kepulauan Indonesia sejak abad     ke-12 atau ke-13. Sekarang didaerah-daerah yang telah berabad-abad memeluknya, nama orang-orang yang dianggap berjasa dalam menyebarkan agama itu disebut dengan hormat dan khidmatc Belum lama berselang Dr.Drewes minta perhatian terhadap soal-soal yang bertalian dengan sejarah agama Islam di Indonesia, dan hal itu masih menunggu tanggapan.
              Suatu kenyataan yang sudah pasti ialah, bahwa di Sumatra-Utara di Aceh yang sekarang ini, para pengusaha di beberapa kota pelabuhan penting sejak paruh kedua abad ke-13 sudah menganut Islam. Pada zaman ini hegemoni politik di Jawa Timur masih ditangan raja-raja beragama Syiwa dan Budha di kediri dan Singasari, didaerah pedalaman. Ibu kota Majapahit, yang pada abad ke-14 sangat penting itu, pada waktu itu belum berdiri. Sebaliknya, besar sekali kemungkinan bahwa pada abad ke-13 di jawa sudah ada orang Islam yang menetap. Sebab, jalan perdagangan di laut, yang menyusuri pantai timur Sumatra melalui laut Jawa ke Indonesia bagian Timur, sudah ditempu sejak zaman dulu.                                 Para pelaut itu, baik yang beragama Islam maupun yang tidak, dalam perjalanan mereka singgah di banyak tempat. Pusat-pusat permukiman di pantai utara Jawa ternyata sangat cocok untuk itu.[3] 


C. Ciri-ciri budaya dan masyarakat jawa
Unsur-unsur kebudayaan menurut konsep B. Malinowski, kebudayaan di dunia mempunyai tujuh unsure universal, yaitu:
Ø  Bahasa
Ø  System tekhnologi
Ø  System mata pencaharian
Ø  Organisasi social
Ø  System pengetahuan
Ø  Religy
Ø  Kesenian
Budaya masyarakat jawa, identik dengan cirri-ciri yang menonjol, diantaranya yang yaitu: religious, nondoktrinier atau dogmatis, toleran, akomodatif, optimistic.
Salah satu sifat dari masyarakat jawa adalah bahwa mereka religious dan bertuhan. Sebelum agama-agama besar datang ke Indonesia, khususnya Jawa, mereka sudah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi dan mengayomi mereka. Dan keberagamaan ini semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti, hindu, bidha, islam, khatolik, protestan, dan protestan ke Jawa. Namun dengan pengamatan selintas dapat diketahui bahwa dalam keberagamaan rata-rata masyarakat Jawa adalah nominalis dalam arti bahwa mereka tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran agama-agamanya
Corak dan watak yang khas dimiliki oleh masyarakat jawa, diantaranya:
v  Percaya kepada Tuhan sebagai sangkan paraning dumadi dengan segala sifat dan kebesarannya.
v  Bercorak idealis yang percaya kepada hal-hal yang bersifat adikodrati
v  Lebih mengutamakan hakikat dari pada segi-segi faormal dan ritual
v  Mengutamakan cinta kasih sebagai landasan pokok hubungan antar manusia
v  Percaya kepada takdir, bersifat pasrah dan berpendirian bahwa manungsa among saderma ngakoni
v  Bersifat konveregen (menyatu), universal dan terbuka
v  Bersifat momot dan sectarian
v  Cenderung menyukai simbolisme
v  Bersifat rukun, damai dan sejuk
v  Bersifat tidak fanatik
v  Bersifat luwes dan lentur
v  Mengutamakan rasa dari pada rasio
v  Kurang lugas, kurang suka berterus terang, percaya kepada dukun dan ramalan,      cenderung kearah gugon tuhan, takhayul
v  Cenderung kurang kompetitif.[4]

D. Pengertian dan Jeins-Jenis Sastra
              Kata ‘sastra dalam bahasa Sansekerta, yakni sas yang berarti mengarah, mengajar, memberi petunjuk/ instruksi, dan tra yang berarti alat, atau sarana, sehingga sastra berarti alat untuk mengajar. Sastra merupakan suatu kegiatan kratif yang terkait dengan hal-hal yang tertulis maupun yang tercetak, termasuk karya sastra lisan. Istilah sastra Jawa secara praktis diartikan sebagai suatu bentuk aktifitas tulis menulis dari para pujangga Jawa dalam mengungkapkan nilai-nilai dan pandangan hidup dalam lingkup budaya Jawa. Kebudayaan ini memiliki elemen-elemen amat majemuk yang berakar pada etika, agama-agama yang berkembang dalam masyarakat Jawa.
1.     karya sastra yang berbentuk prosa-prosa lebih dekat pada pemapar sastra karena di dalam pemaparan terdapat de an, dalam sebuah pemaparan dikatakan mengandung nilai karya retan peristiwa yang disampaikan dalam rangkaian kalimat yang membentuk wacana, tidak berbentuk bait dan baris.
2.     Karya sastra yang berbentuk puisi Herman J. Waluyo mengemukakan bahwa puisi sebagai bentuk kesusastraan yang paling tua. Karya-karya besar didunia seperti Oedipus, Hamlet, Mahabarata, Ramayana dan sebagainya ditulis dalam bentuk puisi.  

Gambaran Karya Sastra di Jawa
              Telah diuraikan bahwa puisi merupakan karya sastra yang paling tua, demikian pula karya sastra yang ada di Jawa, puisi merupakan karya sastra yang paling tua yang lazim disebut dengan Mantra. Setelah mantra, muncul karya sastra yang lain, diantaranya parikan dan wangsalan
              Setiap tradisi di setiap suku bangsa Indonesia memiliki konsep bagaimana orang berhubungan dengan hal-hal Ghaib seperti mantra, karya sastra yang berbentuk puisi di Indonesia adalah pantun dan syair. Pantun dan syair menunjukan ikatan yang kuat dalam struktur kebahasaan.
              Dalam tradisi budaya Jawa, karya sastra yang menyerupai pantun dan syair adalah parikan dan wangsalan. Parikan merupakan pantun dengan model Jawa, yang hanya ada saran bunyi pada dua baris yang lazim disebut dengan sampiran. Sementara itu, dalam wangsalan, dua baris pertama tidak hanya merupakan saran bunyi, tetapi merupakan teka-teki yang akan terjawab pada unsur-unsur isinya.
Interelasi Islam dengan Karya-Karya Sastra Jawa
Bentuk puisi yang dipakai dalam membuat karya-karya sastra para pujangga kraton Surakarta adalah puisi Jawa yang memiliki mentrum Islam, yaitu Mijil, Kinanthi, Pucung, Sinom, Asmaradana, Dhandhanggula, Pangkur, Maskumamang, Durma, Gatruh, dan Megatruh. Tembang-tembang macapat yang berbentuk puisi Jawa itu mengandung nilai sastra. Alasannya puisi pada hakikatnya adalah Karya Sastra, dan bersifat Imajinatif. Maksud dari keterkaitan antara Isalam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang sifatnya Imperatif Moral. Artinya, keterkaitan itu meunjukan warna keseluruhan/ corak yang mendominasi karya-karya sastra tersebut.

              Dengan unsur-unsur ke Islaman yang terdapat dalam literatur-literatur arab atau arab kejawen (Pegon) kemudia diubah dalam bahasa dan sastra jawa serta dipadukan dengan alam pikiran Jawa. Perpaduan antara unsur-unsur Islam dan Jawa itu membuahkan Karya-Karya baru. Masa ini ditandai dengan terbitnya karangan-karangan baru dalam kesusastraan Jawa baru oleh karangan-karangan baru dalam kesusastaraan Jawa baru. Oleh karena itu, sistem yang ditempuh oleh keluarga-keluarga istana Surakarta dan calon pujangga kesusstraan Jawa baru biasanya melalui Pesantren dan mempelajari kitab-kitab kesusastraan Jawa lama
D. Interelasi islam dan jawa dalam wayang
Interelasi nilai dan islam dalam aspek wayang merupakan salah satu bagian yang khas dari proses perkembangan budaya Jawa. Wayang merupakan suatu prodak budaya manusia yang didalamnya tekandung seni estetis. Wayang berfungsi sebagai tontonan dan tuntunan kehidaupan.
            Bicara tentang esensi budaya jawa dapat dirumuskan dalam satu kata wayang. Jadi mempelajari dan memahami wayang merupakan syarat yang tan keno ora atau condotio sine quanon untuk menyelami budaya Jawa. Baik etos jawa maupun pandangan hidup jawa, tergambar dan teralin dalam wayang.
            Antara wayang dan budaya Jawa ibarat sekeping uang logam yang tak terpisahkan. Karena bagi masyarakat Jawa wayang tidak hanya sekedar hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan maupun media dakwah.
       Wayang mengandung makna lebih jauh dan mendalam karena mengungkapkan gambaran hidup semesta (wewayange urip). Wayang dapat memberikan gambaran lakon kehidupan umat manusia dengan segala masalahnya. Dalam dunia pewayangan tersimpan nilai-nilai pandangan hidup jawa dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan dalam kehidupan. Upaya untuk mencapai titik temu antara budaya jawa dan islam, yaitu singkatansengkalan (sangkakala) tanda zaman, yakni sirno/ilang kertaning bumi yang dibaca terbalik yakni 1400 S atau 1478S.
            Itulah saat terjadinya peralihan kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, yang menurut mitos ditandai dengan hilangnya  sabda palon. Mitos itu sesungguhnya mengandung makna simbolik perihal wawasan kosmologis. Sabdodiartikan kata dan palon  diartikan wilayah. Sehingga sabdo palon diartikan konsep tentang ruang dan waktu. Perubahan Majapahit ke Demak membawa implikasi baru yang lebih luas melalui hindu menuju islam. jimat kalimasada yang bersal dari kata kali maha sada ditransformasikan menjadi kalimat syahadat atau tradisi sekaten yang berasal dari kata Nyi sekati diubah menjadi syahadataen. Sedangkan nilai-nilai spirit islam dalam di lihat dari dua hal yaitu: simbolisme dalam wayang kulit dan tokoh-tokoh dalam wayang kulit.
Kita semua mengetahui, bahwa bagi masyarakat Jawa, wayang tidaklah hanya sekedar tontonan, tetapi juga tuntunan. Wayang bukan sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, media penyuluhan dan media pendidikan. Oleh karena itu, melihat pertunjukan wayang ataupun sekedar mendengarkan kaset rekaman wayang, tidak pernah membosankan meskipun cerita atau lakonnya hanya itu-itu saja.
Wayang mengajarkan filsafat laku yang bersumber dari rasa dan hati nurani manusia yang paling dalam, sehingga ruang humanisme semakin terbuka di dalamnya, manusia diupayakan untuk mencintai seluruh makhluk yang ada di atas bumi ini. Karena manusia menjadi seorang pengelola di atas bumi ini yang memiliki tanggung jawab untuk melakukan semua dengan baik.
 Wayang sekarang tidak hanya milik orang Jawa, namun sudah menjadi kebanggan bangsa Indonesia. Untuk itu, kita patut menjaga dan melestarikannya.
.
BAB 3
Penutup
II.           Kesimpulan
Islam dalam arti luas merupakan agama yang diturunkan kepada manusia sebagai rohmat bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia di dunia ini. kebudayaan adalah hasil dari keseluruhan system gagasan, tindakan, cipta, rasa dan karsa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya yang semua tersusun dalam kehaidupan masyarakat. Masyarakat Jawa adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan ragam dialeknya secara turun temurun. Yang mana antara antara islam dan kebudayaan jawa memiliki suatu ikatan dan menghasilkan islam dalam model yang berbeda tanpa menghilangkan hakekat kesaliannya. Pemelajaran islam dan kebudayaan Jawa dirasa penting yaitu sebagai acuan menuju peradaban yang lebih berkualitas.
IV.           Penutup
Demikian makalah yang dapat penulis paparkan mengenai  pengertian islam dan kebudayaan Jawa secara ringkas. Semoga uraian diatas bias menambah sedikit wawasan keilmuan dunia islam khususnya di tanah Jawa. Tak ada gading yang tahk retak oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif selalu penulis harapkan untuk perbaikan kedepan.

Refrensi
Ø  GRAAF. DE dan PIGEAUD,, Kerajaan-kerajaan Islam pertama di jawa, Grafiti pers, jakarta, 1985.
 
Ø  [1] www.islamcendekia.com





[1]  Animisme: kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dsb)
[2]  Dinamisme: kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup.
[3]  DR. H.J.DE GRAAF dan DR.TH. PIGEAUD, Kerajaan-kerajaan Islam pertama di jawa, Grafiti pers, jakarta, 1985. HAL 18-19.
[4] www.islamcendekia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar