ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA
PEMBIMBING: UST.
mUHAMMAD HUDAYA. lc. M.ag
|
BAB 1
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk yang kompleks, dia tidak cukup hanya mencari
makanan, pakaian, dan perumahan, walaupun kebutuhan material ini penting.
Manusia membutuhkan keyakinan atau sesuatu yang percayai.
Suku-suku bangsa Indonesia dan khususnya suku Jawa. Sebelum
kedatangan Hinduisme telah hidup teratur dengan religi animisme dan dinamisme
yang dijadikan akar spiritualitasnya, dan hukum adat yang mereka jadikan
sebagai pranata kehidupan sosial mereka. Religi animime[1]-dinamisme[2]
meruakan akar budaya yang dimiliki bangsa indonesia khususnya suku Jawa,
sehingga berdiri kokoh walaupun mendapat pengaruh dan harus berhadapan dengan
kebudayaan-kebudayaan yang telah berkembang.
BAB 2
Pembahasan
A.
Sejarah Singkat islam di Jawa
Pada abad ke-15
dan ke-16, telah terjadi perkembangan-perkembangan penting di bidang spiritual,
sosial, dan struktur politik bangsa-bangsa dan negara-negara di Asia Tenggara,
seperti juga hal nya di India, Timur Tengah, dan eropa. Sejarah Eropa dan Timur
Tengah pada masa tersebut boleh dianggap sudah diketahui umum. Semangat
petualangan telah mendorong beberapa bangsa Eropa Barat berdagang ke seberang lautan melewati ujung
selata Afrika ke India, dan dari sana terus ke Asia Tenggara, Cina, dan Jepang.
Hal itu sekaligus berarti suatu perluasan hubungan antara Timur dan Barat, yang
di kemudian hari menyebabkan terjadinya perubahan penting di bidang sosial dan
politik di India dan Asia Tenggara. Orang Portugis merebut Goa dan Malaka pada
tahun 1510 dan 1511, dan orang Belanda merebut jakarta pada tahun 1619. Arti
perluasan hubungan perdagangan tersebut bagi bangsa-bangsa Eropa Barat tersebut
tidak perlu di bicarakan disini.
Demikian pula
telah diketahui luasnya pengaruh perebutan-perebutan daerah yang dilakukan oleh
raja-raja Islam di Timur Tengah, selama beberapa ratus tahun terus menerus
sejak abad ke-7 terhadap perkembangan sosial dan politik Eropa. Pada abad ke-15
penakluk yang berkebagsaan Portugis di India dan Asia Tenggara berhadapan lagi
dengan pemeluk agama Islam, yaitu agama
yang telah dikenal dalam sejarah Semenanjung Pirnea. Kalau pada zaman itu agama
Islam berabad-abad menjadi agama keturunan raja yang penting di india, maka di
kepulauan Indonesia- tegasnya di pulau jawa- agama dan tata kemasyarakatan yang
pra-Islam masih tetap bertahan sampai pada permulaan abad ke-16, Bali tidak
pernah berada dibawah kekuasaan Islam. Pada masa orang Portugis mulai menetap
dimalaka raja-raja yang beragama
Syiwa-Budha, yaitu Pajajaran dan Majapahit, masih memerintah bagian terbesar
jawa. Kepulauan Nusantara dapat dianggap sebagai tempat pertemuan antara alam
perdagangan Eropa Barat yang terus mendesak dan alam kebudayaan Islam yang
berkembang dari India dan Asia Tenggara.
B. Permulaan Penyebaran Agama Islam di Jawa
Agama Islam di
Asia Tenggara dan kepulauan Indonesia sejak abad ke-12 atau ke-13. Sekarang
didaerah-daerah yang telah berabad-abad memeluknya, nama orang-orang yang
dianggap berjasa dalam menyebarkan agama itu disebut dengan hormat dan khidmatc
Belum lama berselang Dr.Drewes minta perhatian terhadap soal-soal yang
bertalian dengan sejarah agama Islam di Indonesia, dan hal itu masih menunggu
tanggapan.
Suatu kenyataan
yang sudah pasti ialah, bahwa di Sumatra-Utara di Aceh yang sekarang ini, para
pengusaha di beberapa kota pelabuhan penting sejak paruh kedua abad ke-13 sudah
menganut Islam. Pada zaman ini hegemoni politik di Jawa Timur masih ditangan
raja-raja beragama Syiwa dan Budha di kediri dan Singasari, didaerah pedalaman.
Ibu kota Majapahit, yang pada abad ke-14 sangat penting itu, pada waktu itu
belum berdiri. Sebaliknya, besar sekali kemungkinan bahwa pada abad ke-13 di
jawa sudah ada orang Islam yang menetap. Sebab, jalan perdagangan di laut, yang
menyusuri pantai timur Sumatra melalui laut Jawa ke Indonesia bagian Timur,
sudah ditempu sejak zaman dulu. Para pelaut
itu, baik yang beragama Islam maupun yang tidak, dalam perjalanan mereka
singgah di banyak tempat. Pusat-pusat permukiman di pantai utara Jawa ternyata
sangat cocok untuk itu.[3]
C. Ciri-ciri budaya dan masyarakat jawa
Unsur-unsur kebudayaan
menurut konsep B. Malinowski, kebudayaan di dunia mempunyai tujuh unsure
universal, yaitu:
Ø Bahasa
Ø System
tekhnologi
Ø System
mata pencaharian
Ø Organisasi
social
Ø System
pengetahuan
Ø Religy
Ø Kesenian
Budaya
masyarakat jawa, identik dengan cirri-ciri yang menonjol, diantaranya yang
yaitu: religious, nondoktrinier atau dogmatis, toleran, akomodatif, optimistic.
Salah
satu sifat dari masyarakat jawa adalah bahwa mereka religious dan bertuhan.
Sebelum agama-agama besar datang ke Indonesia, khususnya Jawa, mereka sudah
mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi dan mengayomi mereka. Dan
keberagamaan ini semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti,
hindu, bidha, islam, khatolik, protestan, dan protestan ke Jawa. Namun dengan
pengamatan selintas dapat diketahui bahwa dalam keberagamaan rata-rata
masyarakat Jawa adalah nominalis dalam arti bahwa mereka tidak bersungguh-sungguh
dalam melaksanakan ajaran agama-agamanya
Corak
dan watak yang khas dimiliki oleh masyarakat jawa, diantaranya:
v Percaya
kepada Tuhan sebagai sangkan paraning dumadi dengan segala sifat dan
kebesarannya.
v Bercorak
idealis yang percaya kepada hal-hal yang bersifat adikodrati
v Lebih
mengutamakan hakikat dari pada segi-segi faormal dan ritual
v Mengutamakan
cinta kasih sebagai landasan pokok hubungan antar manusia
v Percaya
kepada takdir, bersifat pasrah dan berpendirian bahwa manungsa among saderma
ngakoni
v Bersifat
konveregen (menyatu), universal dan terbuka
v Bersifat
momot dan sectarian
v Cenderung
menyukai simbolisme
v Bersifat
rukun, damai dan sejuk
v Bersifat
tidak fanatik
v Bersifat
luwes dan lentur
v Mengutamakan
rasa dari pada rasio
v Kurang
lugas, kurang suka berterus terang, percaya kepada dukun dan ramalan, cenderung kearah gugon tuhan, takhayul
D.
Pengertian dan Jeins-Jenis Sastra
Kata ‘sastra
dalam bahasa Sansekerta, yakni sas yang berarti mengarah, mengajar,
memberi petunjuk/ instruksi, dan tra yang berarti alat, atau sarana,
sehingga sastra berarti alat untuk mengajar. Sastra merupakan suatu kegiatan
kratif yang terkait dengan hal-hal yang tertulis maupun yang tercetak, termasuk
karya sastra lisan. Istilah sastra Jawa secara praktis diartikan sebagai suatu
bentuk aktifitas tulis menulis dari para pujangga Jawa dalam mengungkapkan
nilai-nilai dan pandangan hidup dalam lingkup budaya Jawa. Kebudayaan ini
memiliki elemen-elemen amat majemuk yang berakar pada etika, agama-agama yang
berkembang dalam masyarakat Jawa.
1.
karya
sastra yang berbentuk prosa-prosa lebih dekat pada pemapar sastra karena di
dalam pemaparan terdapat de an, dalam sebuah pemaparan dikatakan mengandung
nilai karya retan peristiwa yang disampaikan dalam rangkaian kalimat yang
membentuk wacana, tidak berbentuk bait dan baris.
2.
Karya
sastra yang berbentuk puisi Herman J. Waluyo mengemukakan bahwa puisi sebagai
bentuk kesusastraan yang paling tua. Karya-karya besar didunia seperti Oedipus,
Hamlet, Mahabarata, Ramayana dan sebagainya ditulis dalam bentuk puisi.
Gambaran Karya Sastra di Jawa
Telah diuraikan bahwa puisi merupakan karya sastra yang paling tua,
demikian pula karya sastra yang ada di Jawa, puisi merupakan karya sastra yang
paling tua yang lazim disebut dengan Mantra. Setelah mantra, muncul karya
sastra yang lain, diantaranya parikan dan wangsalan
Setiap tradisi di setiap suku bangsa Indonesia memiliki konsep
bagaimana orang berhubungan dengan hal-hal Ghaib seperti mantra, karya sastra
yang berbentuk puisi di Indonesia adalah pantun dan syair. Pantun dan syair
menunjukan ikatan yang kuat dalam struktur kebahasaan.
Dalam tradisi
budaya Jawa, karya sastra yang menyerupai pantun dan syair adalah parikan dan
wangsalan. Parikan merupakan pantun dengan model Jawa, yang hanya ada
saran bunyi pada dua baris yang lazim disebut dengan sampiran. Sementara itu,
dalam wangsalan, dua baris pertama tidak hanya merupakan saran bunyi, tetapi
merupakan teka-teki yang akan terjawab pada unsur-unsur isinya.
Interelasi Islam dengan Karya-Karya Sastra Jawa
Bentuk puisi yang dipakai dalam membuat karya-karya sastra para
pujangga kraton Surakarta adalah puisi Jawa yang memiliki mentrum Islam, yaitu
Mijil, Kinanthi, Pucung, Sinom, Asmaradana, Dhandhanggula, Pangkur,
Maskumamang, Durma, Gatruh, dan Megatruh. Tembang-tembang macapat yang
berbentuk puisi Jawa itu mengandung nilai sastra. Alasannya puisi pada
hakikatnya adalah Karya Sastra, dan bersifat Imajinatif. Maksud dari
keterkaitan antara Isalam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan
yang sifatnya Imperatif Moral. Artinya, keterkaitan itu meunjukan warna
keseluruhan/ corak yang mendominasi karya-karya sastra tersebut.
D.
Interelasi islam dan
jawa dalam wayang
Interelasi nilai dan
islam dalam aspek wayang merupakan salah satu bagian yang khas dari proses
perkembangan budaya Jawa. Wayang merupakan suatu prodak budaya manusia yang
didalamnya tekandung seni estetis. Wayang berfungsi sebagai tontonan dan
tuntunan kehidaupan.
Bicara tentang esensi budaya jawa dapat dirumuskan dalam satu kata wayang. Jadi
mempelajari dan memahami wayang merupakan syarat yang tan keno ora atau condotio
sine quanon untuk menyelami budaya Jawa. Baik etos jawa maupun
pandangan hidup jawa, tergambar dan teralin dalam wayang.
Antara wayang dan budaya Jawa ibarat sekeping uang logam yang tak terpisahkan.
Karena bagi masyarakat Jawa wayang tidak hanya sekedar hiburan, tetapi juga
sebagai media pendidikan maupun media dakwah.
Itulah saat terjadinya peralihan kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, yang
menurut mitos ditandai dengan hilangnya sabda palon. Mitos
itu sesungguhnya mengandung makna simbolik perihal wawasan kosmologis. Sabdodiartikan
kata dan palon diartikan wilayah. Sehingga sabdo
palon diartikan konsep tentang ruang dan waktu. Perubahan Majapahit ke
Demak membawa implikasi baru yang lebih luas melalui hindu menuju islam. jimat
kalimasada yang bersal dari kata kali maha sada ditransformasikan
menjadi kalimat syahadat atau tradisi sekaten yang berasal dari kata Nyi
sekati diubah menjadi syahadataen. Sedangkan nilai-nilai spirit islam
dalam di lihat dari dua hal yaitu: simbolisme dalam wayang kulit dan
tokoh-tokoh dalam wayang kulit.
Kita semua mengetahui,
bahwa bagi masyarakat Jawa, wayang tidaklah hanya sekedar tontonan, tetapi juga
tuntunan. Wayang bukan sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai
media komunikasi, media penyuluhan dan media pendidikan. Oleh karena itu,
melihat pertunjukan wayang ataupun sekedar mendengarkan kaset rekaman wayang,
tidak pernah membosankan meskipun cerita atau lakonnya hanya itu-itu saja.
Wayang mengajarkan
filsafat laku yang bersumber dari rasa dan hati nurani manusia yang paling
dalam, sehingga ruang humanisme semakin terbuka di dalamnya, manusia diupayakan
untuk mencintai seluruh makhluk yang ada di atas bumi ini. Karena manusia
menjadi seorang pengelola di atas bumi ini yang memiliki tanggung jawab untuk
melakukan semua dengan baik.
Wayang sekarang tidak hanya milik orang Jawa,
namun sudah menjadi kebanggan bangsa Indonesia. Untuk itu, kita patut menjaga
dan melestarikannya.
.
BAB 3
Penutup
II. Kesimpulan
Islam
dalam arti luas merupakan agama yang diturunkan kepada manusia sebagai rohmat
bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagi kehidupan
manusia di dunia ini. kebudayaan adalah hasil dari keseluruhan system gagasan,
tindakan, cipta, rasa dan karsa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya
yang semua tersusun dalam kehaidupan masyarakat. Masyarakat Jawa adalah
orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan ragam
dialeknya secara turun temurun. Yang mana antara antara islam dan kebudayaan
jawa memiliki suatu ikatan dan menghasilkan islam dalam model yang berbeda
tanpa menghilangkan hakekat kesaliannya. Pemelajaran islam dan kebudayaan Jawa
dirasa penting yaitu sebagai acuan menuju peradaban yang lebih berkualitas.
IV. Penutup
Demikian
makalah yang dapat penulis paparkan mengenai pengertian islam dan
kebudayaan Jawa secara ringkas. Semoga uraian diatas bias menambah
sedikit wawasan keilmuan dunia islam khususnya di tanah Jawa. Tak ada gading
yang tahk retak oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif selalu
penulis harapkan untuk perbaikan kedepan.
Refrensi
Ø
GRAAF. DE dan
PIGEAUD,, Kerajaan-kerajaan Islam pertama di jawa,
Grafiti pers, jakarta, 1985.
Ø [1] www.islamcendekia.com
[1] Animisme: kepercayaan kepada roh yang
mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung, dsb)
[2] Dinamisme: kepercayaan bahwa segala sesuatu
mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau
kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup.
[3] DR. H.J.DE GRAAF dan DR.TH. PIGEAUD, Kerajaan-kerajaan
Islam pertama di jawa, Grafiti pers, jakarta, 1985. HAL 18-19.
[4] www.islamcendekia.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar