Senin, 22 Februari 2016

Kajian Tentang Metodologi Ilmu Dakwah



BAB I:PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama terakhir yang Allah jadikan sebagai agama penutup serta penyempurna bagi ajaran-ajaran sebelumnya, dengan Muhammad sebagai akhirul anbiya’ penutup risalah-risalah-Nya. Kerena agama Islam adalah agama penyempurna ajaran-ajaran sebelumnya sudah seharusnya bersifat universal, yang mencakup segala macam aspek kehidupan, mulai dari hal yang sangat kecil seperti memberi senyuman  kepada sesama hingga masalah kehidupan yang sang pelik seperti masalah perekonomian, politik, perdagangan, dan lain sebaginya.
Namun seiring berjalannya waktu dan berkembangnaya ilmu pengetahuan muncullah berbagai problema-problema kontemporer yang membutuhkan ijtihad para ulama untuk menyelesaikan problema tersebut, akan teapi dalam memahami suatu ijtihad terdapat banyak perbedaan dikalangan masyarakat, ada yang memahaminya dengan baik dan benar, dan ada pula yang salah dalam memahaminya. Hal tersebut sudah sangat lumrah di kalangan masyarakat awam, maka tugas para da’I  adalah bagaimana meluruskan pemahaman mereka yang salah agar menjadi benar.
Dalam mata kuliah Ilmu Dakwah ini kita mempeajari definisi ilmu dakwah, objeknya, secara formal maupun meteril, metodologi ilmu dakwah, dan yang lain sebagainya. Bagi calon da’I yang ingin berdakwah dan membela agama Islam, terlebih dahulu harus mempersiapkan diri lahiriah maupun batiniah.karena didalam berda’wah sangat  membutuhkan ilmu pengetahuan sebagai dasar dari kita berda’wah dimasyarakat luas kelak.
Seperti yang diterangkan diatas, makalah ini akan membahas tentang metodologi ilmu dakwah.

1.2. Rumusan Masalah
Jadi dari apa yang jelaskan diatas, saya dapat mengambil beberapa rumusan-rumusan masalah:
a)                   Apa yang dimaksud dengan metodologi?
b)                   Apa pendekatan yang diperlukan dalam berdakwah?
c)                   Apa saja metode dalam berdakwah?

pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis. Karena sifat dasarnya yang partikularistik, maka, dengan mudah kita dapat menemukan teologi Kristen dan katolik, teologi krististen protestan dan begitu seterusnya. Dan jika diteliti lebih mendalam  lagi, dan intern umat Bergama tertentu pun masih dapat dijumpai berbagai paham atau sekte keagamaan.

2.2.2 Pendekatan Sosiologis
Sebelum itu kita harus mengetahui arti dari sosiologi. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia. Dari definisi tersebut, sosiologi dapat sigunakan sebagai salah satu  oleh pendekatan dalam memahami agama. hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat difahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam agama Islam dapat dijumpai peristiwa nabi yusuf yang dahulu menjadi budak lalu akhirnya menjadi penguasa mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa dibantu dengan Nabi Harun, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial. Tanpa ilmu ilmu sosial peristiwa-peristiwa itu sulit dijelaskan dan sulit dipahami maksudnya. Disinalah letak sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.

2.2.3 Pendekatan kebudayaan
            Dalam kamus bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seprti kepercayaan, kesenian, adat istiadat dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebaginya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan[1]. Sementara itu Sultan Takdir Alisjahbana mengatakan kebudayaan adalah keseluruhan yang komplek, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda sepeti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain, yang diperoleh manusia sebaagai anggota masyarakat[2].
            Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Didalam kebudayaan tersbut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istisdat dan sebagainya. Kesemuanya itu selanjutnya digunakan sebagai kerangka acuan atau blue print oleh seseorang dlam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya. Dengan demikian kebudayaan tampil sebagai pranataq yang terus menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut.

2.2.4 Pendekatan Psikologi
            Psikologi atau ilmu kejiwaan adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala prilaku yang dapat diamatinya. menurut Zakiyah Deradjat[3], bahwa prilaku seseorrang yang Nampak lahiriah terjadi karena dipengaruhi keyakinan yang dianutnya. Seseorang ketika berjumpa saling mengucapkan salam, hormat kepada kedua orang tua, kepada guru, menutup aurat, rela berkorban untuk kebenaran, dan sebagainya adalah merupakan gejala-gejala keagamaan yang dapat dijeladkan melalui ilmu jiwa agama. Ilmu jiwa agama sebagaimana dikemukakan Zakiah Derajat tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agakma tersebut terlihat pengruhnya dalam prilaku penganutnya.

2.3. Metodologi Dalam Ilmu Da’wah
Dalam melaksanakan segala hal dalam aspek kehidupan kita memerlukan metode sebagai cara untuk mempermudah atau menuntun pekerjaan kita kepada tujuan yang kita inginkan. Tak terkecuali dalam berdakwah, metode atau cara-cara dalam berdakwah sesungguhnya telah termaktub dalam sumber utama agama Islam itu sendiri yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka selaku muslim maka kita harus mengetahui bagaimana Al-qur’an menyuruh kita untuk berdakwah dan tata cara Rasulullah SAW dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyeru(pendakwah) bagi umat manusia untuk kembali kepada jalan yang benar.
Pertama Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-‘Alaq ayat satu-lima yang berbunyi.
اقرأ باسم ربك الذي خلق، خلق الإنسان من علق،  اقرأ وربك أكرم، الذي علم بالقلم علم الإنسان مالم يعلم.
Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhan-mulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantara kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahui. 
            Khitab yang pertama kali diperintahkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW adalah membaca, karena tujuan membaca adalah untuk mengetahui sesuatu yang kita inginkan terutama dalam berdakwah, maka membaca keadaan, budaya dan pendekatan2 seperti yang telah di lampirkan pada bab yang sebelumnya menjadi sangat penting. kemudian dari hasil membaca adalah ilmu dan ilmu adalah kunci dalam kesuksesan dalam berdakwah. Imam Bukhari Radhiyallah ‘anhu menaruh perhatian terhadap ilmu dalam kitabnya di bab “Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan”[4] maka jelas sudah bahwa posisi ilmu dalam segala aspek adalah penting, maka dalam berdakwah ilmu juga mendapat peranan yang signifikan terhadap kesuksesan dakwah itu sendiri.
            Kedua di dalam surah An-Nahl ayat 15 Allah SWT juga telah menerangkan secara jelas teori tentang berdakwah.
            ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم التي هي أحسن إن ربك هو أعلم بما ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين.
            Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan Hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengethui tentang siapa yang tersesat dari jalan-nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
            Ayat ini dipahami oleh sementara ulama sebagai penjelasan tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah. Terhadap cendekiawan yang berpengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kaum awam diperintahkan untuk menerapkan mau’idzoh, yakni memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedang, terhadap ahlul kitab dan penganut agama-agama lain yang di perintahkan adalah jidal(perdebatan dengan cara yang terbaik) yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.[5]
           
BAB III: PENUTUP
3.1. Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan di atas maka kami mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.     Metodologi adalah pengetahuan tentang metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian. Metodologi dapat di artikan sebagai pengetahuan tentang metode-metode.
2.     Ada tiga pendekatan dalam berdakwah yaitu pendekatan teologis normative, pendekatan sosiologis dan pendekatan psikologi
3.     Metode dalam berdakwah adalah
a.      Bil’ilmi atau menggunakan ilmu dalam pengertian umum
b.     Menggunakan hikmah kepada kaum intelektual dan cendekiawan
c.      Menggunakan mau’idzoh kepada kaum awam
d.     Menggunakan jidal kepada ahli kitab
3.2. Penutup.
            Sebagai umat muslim tentunya harus mengetahui tentang cara atau metode dalam berdakwah, dari pembahasan penulis diatas telah dipaparkan cara atau metode tersebut, maka kami selaku penulis memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu kritik dan koreksian sangat kami harapkan kepentingan bersama, wassalam.








Daftar Pustaka.
Al-Qur’an Al-Karim
صحيح البخاري
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. PT Raja Grafindo Persada. Cetakan ke-VIII. Jakarta:2003.
Shihab, M.Quraisy. Tafsir Al-Misbah. Lentera Hati. Cetakan ke-II.2009
Omar, Thoha Yahya. Ilmu Dakwah. Widjaja Djakarta. Jakarta:1967







[1] W.J.S Poer wadarminta, kamus umum bahasa Indonesia, Hal: 156
[2] Sultan Alisjahbana, Antropologi baru, (Jakarta: Dian Rakyat, 1986, Hala:207
[3] Zakiah Derajat, ilmu jiwa agama, hal:76
[4] صحيح البخاري.
[5] Shihab, Muhammad Quraish. Tafsir Al-Mishbah Vol.6 Hal.774

Tidak ada komentar:

Posting Komentar